Selama lebih dari tiga dasawarsa rezim Soeharto, sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mendapat pengetahuan sejarah G30S versi penguasa Orde Baru. Padahal, ada banyak versi tentang peristiwa politik rumit yang terjadi pada awal Oktober 1965 itu. Meskipun demikian, output dari peristiwa itu sangat jelas, yaitu tergulingnya Sukarno dari tampuk kekuasaannya dan tegaknya rezim militer yang sangat kuat dengan dukungan penuh Amerika Serikat.
Presiden Sukarno sendiri dalam pidato pelengkap Nawaksara (10 Januari 1967) mengatakan bahwa peristiwa G30S 1965 terjadi karena bertemunya tiga sebab, yakni karena pemimpin PKI yang keblinger, kelihaian Nekolim, dan oknum yang tidak benar. Dengan demikian, tidak ada dalang tunggal untuk peristiwa itu sebagaimana tertulis di dalam narasi resmi Orde Baru.
Menurut sejarawan Indonesia, Asvi Warman Adam, dengan mengacu pada pernyataan Presiden Sukarno sebagaimana disebutkan di atas, maka secara matematis sederhana, andil keterlibatan ketiga unsur penyebab G30S itu sama besar, yakni 33,33 persen. Namun, sejauhmana peran pimpinan PKI hingga dikatakan keblinger oleh Presiden Sukarno? Bagaimana dan mengapa Nekolim (AS dan Inggris) ikut melibatkan diri dalam peristiwa G30S? Siapa saja yang diduga sebagai ‘oknum tidak benar’ hingga memunculkan peristiwa berdarah tersebut? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu salah satunya bisa terjawab dalam dalam narasi alternatif buku "Kemelut Tragedi 1965" yang ditulis oleh Imamul Arifin.







