Hampir semua orang di Indonesia tidak ada yang menduga kalau Indonesia dan sejumlah negara Asia akan mengalami krisis ekonomi yang sangat parah dalam sejarah sejak berakhirnya Perang Dunia II. Padahal, sejak tahun 1995 beberapa badan dunia seperti IMF dan Bank Dunia sudah beberapa kali memperingatkan Thailand dan Indonesia kalau perekonomian kedua negara tersebut sudah mulai memanas (overheating). Peringatan itu barangkali berkaitan dengan karakter alamiah yang melekat dalam sistem ekonomi pasar, yakni adanya siklus bisnis atau naik turunnya kegiatan ekonomi. Jika hal itu dibiarkan terus tanpa anisipasi akan berakibat buruk bagi ekonomi negara yang bersangkutan.
Peringatan dan lembaga donor internasional itu benar-benar menjadi mimpi buruk orang Indonesia. Krisis ekonomi hebat pun melanda Indonesia dan sejumlah negara di Asia sejak pertengahan 1997. Data fundamental perekonomian sebelum krisis tampaknya sangat mengganggu konsistensi cara berpikir sejumlah ekonomi Indonesia, terutama ekonom generasi baru yang selama beberapa tahun sebelum krisis sangat vokal menyampaikan komentar dan gagasannya di media massa dan berbagai forum. Sebagian dari mereka semakin masuk ke dalam mazhab neo-liberal yang sangat menyakini dan mengistimewakan posisi ‘pasar’ dalam menentukan pertumbuhan dan kestabilan ekonomi. Mereka kurang menganalisis faktor-faktor yang sebenarnya sudah diketahui masyarakat Indonesia seperti maraknya KKN, sistem perbankan yang rapuh, legitimasi pemerintah yang rendah dan faktor-faktor lain dari dalam maupun luar negeri. Krisis ekonomi yang kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi itu telah menumbangkan Orde Baru.







0 Comments:
Posting Komentar